Aksi mahasiswa kembali menggema di jantung Kota Yogyakarta. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Forum BEM se-DIY turun ke jalan membawa semangat “Reformasi Jilid II” dalam aksi damai yang digelar di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Kamis sore (21/5/2026).
Momentum ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Aksi tersebut menjadi simbol kegelisahan generasi muda terhadap arah demokrasi Indonesia, kondisi ekonomi rakyat, hingga berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap semakin jauh dari semangat reformasi 1998.
Mahasiswa dari 17 kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta berjalan dari kawasan Malioboro menuju Titik Nol Kilometer sambil membawa poster, spanduk, dan berbagai tulisan kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Di tengah teriknya sore Kota Jogja, orasi demi orasi disampaikan secara bergantian. Narasi yang muncul bukan hanya soal kritik politik, tetapi juga keresahan mendalam tentang masa depan demokrasi, kesejahteraan rakyat, hingga ancaman dominasi oligarki dalam kehidupan bernegara.
Momentum 28 Tahun Reformasi yang Kembali Menghidupkan Semangat Perlawanan
Tanggal 21 Mei memiliki makna historis bagi Indonesia. Pada tanggal itulah, tepat 28 tahun lalu, Presiden kedua Indonesia, Soeharto, resmi lengser dari jabatannya setelah gelombang demonstrasi besar yang dipimpin mahasiswa.
Reformasi 1998 menjadi tonggak penting lahirnya demokrasi modern di Indonesia. Namun, sebagian mahasiswa menilai semangat reformasi mulai memudar karena berbagai praktik kekuasaan yang dianggap kembali menyerupai era Orde Baru.
Koordinator Forum BEM se-DIY, Faturahman Djaguna, menilai bahwa gejala kemunduran demokrasi mulai terlihat dalam berbagai aspek kehidupan bernegara.
Menurutnya, kebebasan sipil mulai tertekan, suara kritis dianggap ancaman, dan kekuatan ekonomi-politik semakin terkonsentrasi pada kelompok elit tertentu.
Narasi “Reformasi Jilid II” pun muncul sebagai bentuk peringatan bahwa demokrasi tidak boleh berhenti hanya sebagai simbol sejarah.
Mengapa Mahasiswa Kembali Turun ke Jalan?
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa mahasiswa selalu menjadi salah satu kekuatan moral dalam mengawal arah bangsa. Dari masa perjuangan kemerdekaan, gerakan 1966, hingga Reformasi 1998, suara mahasiswa sering menjadi alarm ketika masyarakat merasa negara mulai kehilangan arah.
Di era modern saat ini, demonstrasi mahasiswa bukan hanya soal pergantian kekuasaan, tetapi juga bentuk kontrol sosial terhadap kebijakan negara.
Forum BEM se-DIY menilai ada sejumlah persoalan besar yang perlu segera mendapat perhatian serius pemerintah, mulai dari isu HAM, korupsi, pendidikan, kesejahteraan rakyat, hingga stabilitas ekonomi nasional.
Aksi di Jogja ini juga mencerminkan keresahan sebagian masyarakat yang merasa bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan rakyat kecil.
Di sisi lain, biaya hidup meningkat, lapangan pekerjaan semakin kompetitif, dan generasi muda menghadapi ketidakpastian masa depan.
12 Tuntutan Mahasiswa yang Menjadi Sorotan Nasional
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan 12 tuntutan yang dianggap mewakili keresahan masyarakat saat ini.
1. Menuntut Penyelesaian Pelanggaran HAM
Mahasiswa meminta negara mengusut tuntas berbagai kasus pelanggaran HAM yang belum selesai hingga saat ini.
Bagi mereka, penyelesaian pelanggaran HAM bukan sekadar agenda politik, tetapi bagian penting dari keadilan sejarah bangsa.
Isu ini menjadi penting karena tanpa penyelesaian yang jelas, luka sosial akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
2. Menolak Oligarki Politik dan Ekonomi
Salah satu isu yang paling keras disuarakan adalah penolakan terhadap oligarki.
Mahasiswa menilai kekuasaan politik dan ekonomi saat ini semakin dikuasai segelintir elit yang memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan negara.
Kondisi ini dianggap membuat kepentingan rakyat kecil sering tersisih oleh kepentingan investasi dan kelompok tertentu.
3. Mendesak Pemberantasan Korupsi
Korupsi masih menjadi persoalan klasik Indonesia.
Mahasiswa menilai praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme belum benar-benar hilang, bahkan dinilai semakin mengakar dalam berbagai sektor.
Mereka juga menyoroti pelemahan lembaga hukum yang dianggap mengurangi kepercayaan publik terhadap penegakan hukum di Indonesia.
4. Memperkuat Demokrasi dan Kebebasan Sipil
Mahasiswa meminta pemerintah menjaga ruang demokrasi agar masyarakat tetap bebas menyampaikan kritik dan pendapat.
Mereka menilai demokrasi sehat harus memberi ruang aman bagi aktivis, akademisi, jurnalis, hingga masyarakat sipil untuk bersuara tanpa intimidasi.
5. Mendorong Pengesahan UU Masyarakat Adat
Persoalan masyarakat adat masih menjadi isu besar di Indonesia.
Konflik lahan, eksploitasi sumber daya alam, hingga minimnya perlindungan hukum membuat mahasiswa mendesak pemerintah segera mengesahkan UU Masyarakat Adat.
Selain itu, mereka juga mendorong lahirnya regulasi perlindungan aktivis.
6. Menolak Tindakan Represif Negara
Mahasiswa juga menyoroti peran aparat dalam ruang sipil.
Tuntutan “TNI kembali ke barak” menjadi simbol penolakan terhadap keterlibatan militer dalam urusan sipil yang dianggap berlebihan.
Isu ini menjadi sensitif karena berkaitan dengan sejarah panjang reformasi Indonesia.
7. Menuntut Pendidikan Gratis dan Demokratis
Pendidikan menjadi salah satu fokus utama tuntutan mahasiswa.
Mereka menilai pendidikan seharusnya menjadi hak dasar seluruh rakyat, bukan barang mahal yang sulit diakses masyarakat kecil.
Mahasiswa juga mengkritik arah pendidikan yang dinilai terlalu berorientasi industri dan mengurangi kebebasan akademik.
Selain itu, mereka menolak keterlibatan kampus dalam pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
8. Mendesak Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Persoalan ekonomi menjadi perhatian serius mahasiswa.
Nilai tukar rupiah yang fluktuatif dinilai berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, hingga daya beli masyarakat.
Mahasiswa meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
9. Menuntut Kesejahteraan Guru, Buruh, dan Tenaga Medis
Mahasiswa menilai kesejahteraan pekerja sektor publik masih jauh dari ideal.
Guru, tenaga kesehatan, dan buruh dianggap menjadi kelompok penting yang selama ini belum mendapatkan perhatian maksimal.
Mereka juga mendorong layanan kesehatan gratis dan berkualitas untuk masyarakat.
10. Menyoroti Kejahatan Remaja di Yogyakarta
Forum BEM se-DIY juga menyoroti meningkatnya kasus kejahatan remaja di Yogyakarta.
Fenomena klitih dan kekerasan jalanan dianggap mengganggu rasa aman masyarakat.
Mahasiswa meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
11. Memperjuangkan Nasib Tukang Becak dan Pedagang Kecil
Malioboro bukan hanya ikon wisata, tetapi juga ruang hidup bagi masyarakat kecil.
Mahasiswa meminta pemerintah daerah memperhatikan kesejahteraan tukang becak, pedagang kaki lima, dan pelaku ekonomi kecil yang menjadi bagian penting identitas Jogja.
12. Mendesak Pembebasan Tahanan Politik
Tuntutan terakhir adalah pembebasan tahanan politik di Indonesia.
Mahasiswa menilai demokrasi tidak boleh membungkam perbedaan pendapat melalui kriminalisasi politik.
Kritik terhadap Program Pemerintah
Selain menyampaikan tuntutan, mahasiswa juga menyoroti beberapa program pemerintah yang dianggap membebani keuangan negara.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu yang paling banyak dikritik.
Mahasiswa menilai anggaran besar untuk program tersebut sebaiknya dialihkan untuk pendidikan gratis, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mereka juga menyinggung program Koperasi Desa Merah Putih yang dianggap perlu evaluasi agar tidak hanya menjadi proyek politik tanpa dampak nyata bagi rakyat.
Namun di sisi lain, pendukung pemerintah menilai program-program tersebut bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat ekonomi nasional.
Perbedaan pandangan inilah yang menjadi dinamika demokrasi di Indonesia saat ini.
Jogja dan Tradisi Perlawanan Mahasiswa
Yogyakarta memiliki sejarah panjang sebagai kota gerakan mahasiswa.
Sebagai kota pendidikan, Jogja menjadi tempat lahirnya banyak gerakan sosial dan politik sejak masa kemerdekaan hingga reformasi.
Kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer Yogyakarta sering menjadi titik berkumpulnya aksi mahasiswa karena memiliki nilai simbolis dalam sejarah pergerakan rakyat.
Aksi damai yang berlangsung di kawasan tersebut juga menarik perhatian wisatawan dan masyarakat yang sedang beraktivitas di pusat Kota Jogja.
Meski dipenuhi kritik keras terhadap pemerintah, demonstrasi berlangsung relatif tertib dengan pengawalan aparat kepolisian.
Reformasi Jilid II: Ancaman atau Alarm Demokrasi?
Istilah “Reformasi Jilid II” memunculkan berbagai respons di masyarakat.
Sebagian melihatnya sebagai alarm penting untuk mengingatkan pemerintah agar tetap berada di jalur demokrasi.
Namun ada juga yang menilai istilah tersebut terlalu berlebihan dan berpotensi memicu polarisasi politik.
Terlepas dari perbedaan pendapat, aksi mahasiswa menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian besar terhadap masa depan bangsa.
Dalam sistem demokrasi, kritik dan demonstrasi merupakan bagian dari hak konstitusional warga negara.
Selama dilakukan secara damai dan sesuai aturan, aksi seperti ini menjadi bentuk partisipasi publik dalam mengawal kebijakan negara.
Persoalan yang Paling Dekat dengan Masyarakat Saat Ini
Dari 12 tuntutan tersebut, beberapa isu dinilai paling dekat dengan kondisi masyarakat saat ini.
Ekonomi dan Lapangan Kerja
Kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan, dan rendahnya daya beli menjadi persoalan yang dirasakan banyak masyarakat.
Karena itu, tuntutan terkait stabilitas ekonomi dan kesejahteraan pekerja menjadi sangat relevan.
Pendidikan
Biaya pendidikan yang terus meningkat membuat banyak keluarga kesulitan menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.
Isu pendidikan gratis dan akses pendidikan berkualitas menjadi perhatian besar generasi muda.
Korupsi
Masyarakat juga masih menaruh perhatian besar terhadap pemberantasan korupsi.
Kasus korupsi yang terus muncul membuat publik mempertanyakan efektivitas penegakan hukum.
Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi
Di era digital, kebebasan berpendapat menjadi isu penting.
Masyarakat semakin sensitif terhadap dugaan pembungkaman kritik dan intimidasi terhadap aktivis maupun jurnalis.
Media Sosial dan Gelombang Dukungan Publik
Aksi mahasiswa di Jogja dengan cepat menjadi perbincangan di media sosial.
Berbagai video orasi, poster aksi, dan potongan demonstrasi viral di berbagai platform digital.
Tagar seperti #ReformasiJilid2, #BEMDIY, dan #SuaraMahasiswa ramai digunakan warganet untuk menyampaikan dukungan maupun kritik terhadap aksi tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi ruang baru dalam membentuk opini publik dan gerakan sosial.
Mahasiswa tidak lagi hanya bergerak di jalanan, tetapi juga di ruang digital.
Tantangan Demokrasi Indonesia ke Depan
Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara menghadapi tantangan besar di masa depan.
Ketimpangan ekonomi, polarisasi politik, korupsi, hingga krisis kepercayaan publik terhadap institusi menjadi persoalan serius yang perlu diselesaikan bersama.
Pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat sipil memiliki peran penting menjaga demokrasi tetap sehat.
Perbedaan pendapat seharusnya menjadi kekuatan untuk memperbaiki negara, bukan memecah belah bangsa.
Reformasi Tidak Boleh Berhenti Menjadi Sejarah
Aksi mahasiswa di Jogja menjadi pengingat bahwa reformasi bukan hanya peristiwa masa lalu.
Semangat reformasi harus terus hidup dalam bentuk pengawasan terhadap kekuasaan, perjuangan keadilan sosial, dan keberanian menyuarakan kepentingan rakyat.
Forum BEM se-DIY menegaskan bahwa demokrasi harus terus dijaga agar tidak kehilangan arah di tengah ketimpangan sosial dan dominasi kekuasaan elit.
Kini pertanyaannya kembali kepada masyarakat Indonesia: apakah reformasi sudah benar-benar selesai, atau justru perjuangan itu masih terus berjalan hingga hari ini?